7 Fakta Tentang BTJ, Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Aceh.

Karena ada urusan mendadak dari kantor yang mengharuskan aku ke Aceh, mau ga mau, aku pergi tanpa persiapan dan informasi yang mumpuni. Sepulangnya, aku sudah berniat untuk membuat tulisan tentang BTJ.

Baca Juga : Daftar Peralatan Kemping Keluarga 

Berikut aku tuliskan 7 fakta tentang BTJ, Bandar Udara Iskandar Muda, Aceh. Wait, BTJ itu apa? BTJ adalah Kode dari IATA untuk Bandar Udara Iskandar Muda. Contoh lain dari kode IATA adalah : Untuk Cengkareng kodenya CGK, Singapura kodenya SIN, Kuala Lumpur kodenya KUL, Penang kodenya PEN. Balik lagi ke Fakta tentang BTJ.

1. Dibangun Oleh Pemerintah Jepang

Tahun 1943, Pemerintahan Jepang membangun landasan udara ini. 10 Tahun kemudian, ditahun 1953 pemerintah Indonesia membuka kembali untuk tujuan pendaratan pesawat, waktu itu namanya masih Bandar Udara Blang Bintang.

2. Namanya diambil dari Sultan yang paling berjaya di Aceh

Sultan Iskandar Muda ini merupakan sultan yang paling besar dan berjaya selama masa kesultanan aceh, berkuasa dari tahun 1607-1636. Dalam masa kepemimpinannya, Aceh dikenal sebagai pusat perdagangan dan pembelajaran tentang Islam. (sumber wikipedia)

3. Tempatnya tidak terlalu besar

Walaupun merupakan bandar udara international, namun BTJ ini tempatnya relatif kecil. Dari tempat aku turun (dari pesawat) menuju tempat keluar, dengan berjalan kaki memakan waktu tidak lebih dari 5 menit. Ini aku dapat peta nya dari websitenya.

Peta-BTJ

 

4. Bisa beli tiket Offline

Karena aku sendiri belum bisa memprediksi-kan apakah pekerjaan bisa langsung selesai atau harus menginap. Aku tidak beli tiket pulang pergi. Untuk berangkat aku menggunakan maskapai yang menyediakan penerbangan langsung dari Cengkareng ke Aceh, yaitu Garuda Indonesia.

Kebanyakan Maskapai mengharuskan transit ke KNO (Bandar udara Kualanamu, Medan). Perbandingan lamanya waktu perjalanan juga lumayan. Penerbangan langsung memakan waktu 2,5 jam, jika transit di Kualanamu bisa memakan waktu hingga 5,5 jam. Masakapai yang mejeng di BTJ adalah : Air Asia, Batik Air, Citilink, Firefly, Garuda Indonesia, Lion Air, Susi Air. Dan setelah aku tanya-tanya ke semua maskapai yang ada, mereka menyediakan tiket walk in, namun pastinya lebih mahal, karena sudah mendekati jam keberangkatan.

5. Ada Penerbangan Langsung Jakarta-Aceh

Dari bertanya-tanya itu juga aku jadi tau, selain Garuda Indonesia yang menyediakan penerbangan langsung dari Cengkareng ke Aceh. Batik Air juga menyediakan penerbangan langsung, namun bukan dari Cengkareng tapi dari Halim Perdana Kusuma. Memang hanya satu kali penerbangan setiap harinya.

6. Tersedia Kid-zone

Ruang-bermain-anak
Foto ruang bermain anak di BTJ

Bagi keluarga yang membawa anak kecil, BTJ menyediakan fasilitas ruang bermain untuk anak. Memang tidak terlalu luas, tapi cukuplah untuk membuat anak-anak sibuk bermain sambil menunggu waktu penerbangan.

Baca juga : Tips memilih Tenda untuk kemping Keluarga 

7. Waktu Tunggu bisa dipakai untuk Jalan-jalan

Hidup diantara dua kota, Jakarta dan Bogor, aku sudah terbiasa dengan yang namanya Macet. Namun saat berkunjung ke Aceh, aku amazed liat kotanya lancar, jarang Angkot, warganya ramah. Berasa jalan-jalan di hari minggu, padahal aku ke pusat kota Aceh dihari kerja. Kalo di Jakarta, tau sendiri kan gimana crowded nya Kuningan, Sudirman dan sekitarnya, di weekday.

Awalnya aku ga berminat untuk jalan-jalan, aku sudah siapkan buku-buku untuk dibaca saat waktu senggang. Ternyata setelah berbincang-bincang dengan pengemudi taxi bandara (Rizal 08120 6206 5078) aku diberi tahu jika aku bisa jalan-jalan keliling aceh, mengunjungi tempat pariwisata dan situs-situs tsunami hanya dalam waktu 4-5 jam. Setelah tawar-menawar aku setuju dengan harga 250rb sudah All-in.

Kemana aja jalan-jalannya?

Ketempat yang semuanya Gratis (aku baru tau setelahnya). Ga mau rugi ya tour guide nya 😀

1. Museum Tsunami Aceh

Dalam perjalanan ke Museum Tsunami Aceh, aku diperlihatkan tempat-tempat yang bersejarah bagi warga aceh. Seperti tempat tinggal walikota aceh, yang tadinya adalah pemimpin GAM. Lalu kompleks pekuburan masal tempat korban Tsunami. Kembali lagi ke Museum Tsunami Aceh. Didepan pintu utama kita akan disambut dengan helikopter yang tidak selamat dari terjangan Tsunami, yang saat kejadian sedang parkir dihalaman Polda Aceh. By the way, Museum ini ternyata dirancang oleh Kang Ridwan Kamil, yang saat ini (tahun 2017) adalah walikota Bandung.

Helikopter-korban-Tsunami

 

Baca juga : Guide to Perpustakaan Nasional dI samping Balai Kota

Nah, disebelah kiri helikopter itu adalah pintu masuk kedalam museum. Kamu akan memasuki ruangan yang gelap, sempit, dan basah. Untuk mengingatkan kita akan apa yang terjadi pada Hari Minggu, 26 Desember 2004. Setelah melewati ruangan panjang yang basah, kita akan memasuki ruangan Standing Screen, yang menyajikan foto-foto kerusakan, korban, dan proses evakuasi setelah tsunami.

Standing-Screen-Museum-Tsunami-Aceh

 

Ruangan selanjutnya adalah The Light of God yang bertuliskan akan nama-nama korban Tsunami, bentuk ruangan seperti cerobong bulat.

Ruang-doa-Museum-Tsunami-Aceh

Lalu kita akan keluar menuju jembatan harapan, di atasnya terdapat bendera dari 52 negara yang memberikan bantuan pada Aceh. Setelahnya kita bisa memasuki ruangan teater, yang menyediakan pemutaran film dari detik-detik menjelang tsunami hingga saat pertolongan datang. Ada juga ruangan pameran, yang menunjukan Aceh sebelum dan sesudah tsunami, miniatur-miniatur bencana. Salah satunya adalah jam ini, yang menunjukan waktu kongkrit kejadian.

Jam Mati-museum-tsunami-aceh

 

2. Situs Tsunami PLTD Apung

Tempat selanjutnya yang kami kunjungi adalah Situs Tsunami PLTD Apung. Kenapa disebut PLTD Apung? Karena dulunya Kapal seberat 2,6 Ton, panjang 63M dan lebar 19M ini berfungsi sebagai penyalur listrik untuk lingkungan sekitarnya. Hari Minggu itu, Kapal PLTD Apung sedang berada di Pelabuhan Ulee Lheue, namun karena kedahsyatan Tsunami membuat kapal ini terseret sejauh 5KM lebih ke wilayah pemukiman warga di desa Punge Blang Cut, Kecamatan Meuraksa, Kota Banda Aceh. Menurut Abang Rizal, semua awak pesawat PLTD Apung selamat, terlindung didalam kapal (jadi inget Nuh). Dari gerbang pintu masuk, kamu sudah bisa melihat lambung kapalnya.

Situs-Tsunami-PLTD-Apung

Untuk masuk kedalam kapal, kita akan melewati reruntuhan rumah. Lalu tangga akan membawa kita naik ke atas kapal. Diatas kita akan bisa melihat pemandangan disekitar kapal, dan bahkan pelabuhan tempat dimana tadinya kapal ini sandar.

PLTD-Apung-Korban-Tsunami

3. Kapal Apung Lampulo

Tempat ketiga yang kami kunjungi adalah Kapal Apung Lampulo. Gampong (desa) Lampulo termasuk wilayah yang terkena imbas paling parah akibat Tsunami. Sebuah kapal nelayan sepanjang 18M terdampar dilantai 2 rumah warga. Dan oleh pemerintah daerah wilayah tersebut dijadikan tempat pariwisata. Ditempat ini aku ga ambil foto, karena HP mati. Jadi foto aku ambil dari sini. Dari sudut tempat foto ini diambil terdapat tangga yang bisa digunakan untuk memasuki kapal nelayan tersebut.

situs-tsunami-aceh-kapal-lampulo-2

Baca juga : 3 Langkah Mudah Urus STNK yang hilang

Setelah capek keliling Aceh, ditambah HP mati total, aku meminta Bang Rizal untuk mencari tempat Kongkow yang asik. Spesial request dari aku, tempatnya harus menyediakan mie aceh dan kopi yang enak. Dan dibawalah aku ke Warkop Zakir. Harga makanannya terjangkau, Sanger nya enak, tersedia tempat untuk nge-Charge. Ohya, sanger adalah sebutan orang aceh untuk kopi campur susu. Kalo kamu ada rencana ke Aceh, bisa telpon Abang Rizal, dia akan stand by jemput kamu di bandara. Orangnya ramah, supel, dan nge-jaga banget (I promise him, to promote him). 

 

 

 

Related Post

Mengunjungi Perpustakaan Nasional yang Baru Sejak dibuka untuk umum, di bulan September 2017. Baru, di awal Desember 2017, kami berkesempatan untuk mengunjungi Perpustakaan Nasional yang baru. ...
Pemandian Air Panas Ciparay Setelah 2 malam nenda di samping Curug Cihurang, kami melanjutkan perjalanan untuk keliling Taman Wisata Gunung Halimun Salak. Ternyata tidak jauh dar...
Kawah Putih dan Situ Patenggang Kawah Putih dan Situ Patenggang adalah beberapa tujuan wisata di daerah bandung selatan.  Memang apa hubungannya Kawah Putih dan Situ Patenggang ? Ga ...
Sawarna, The Hidden Paradise di Banten Ke Sawarna naik Motor?! Bisa Koq. Kali ini aku mau share pengalaman kami setahun yang lalu, saat mengunjungi Pantai Sawarna, yang menurut review ada...
Escorindo Farewell Party dari Team Operasional Kemarin adalah hari terakhir saya bekerja di PT. Escorindo Jasa Prima, sebagai Manager Operasional. Sepulang kerja, atasan saya sudah menyiapkan Escor...

12 thoughts on “7 Fakta Tentang BTJ, Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Aceh.

  1. Halo kak Anggi, trims sudah kasih link 🙂

    Tempo hari ke Aceh saya malah tak sempat mengeksplorasi bandaranya yang dari jauh sekilas terlihat seperti masjid besar. Next time musti balik lagi kesini tampaknya, hehehe!

    1. Hi Kak Gio,
      Sama nih, ga sempet ke masjidnya juga.
      Anyway, Aceh jauh berbeda dari yang aku bayangkan.
      It’s a beautiful place.

  2. Salam kenal kak Anggi 😀
    Wah, baru kali ini baca insight tentang Bandar Udara Iskandar Muda. Biasanya kalau temen-temenku cerita tentang Aceh, pasti tentang Ie Boih, Rubiah, Pulau Weh, Masjid Raya. Bagus nih, ulasannya 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.