Family, Parenting

Anak usia sekolah, koq belum bisa baca?!

Anak kedua saya, 6 tahun, sampai saat ini belum bisa baca. Dia masih nyaman dibacakan cerita tiap saat. Saya pun belum mau menghentikan kebiasaan membacakan buku untuk kiddos.

Sempat timbul kegalauan, jika melihat anak seusianya yang sudah sekolah, dan bisa baca. Pernah menyalahkan diri sendiri. Dan berpikir, apakah karena saya terlalu sibuk bekerja, atau kurang telaten membantu Karen untuk belajar baca.

Anak belum bisa baca

Sampai saya sadar, menyalahkan diri sendiri (atau orang lain), sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Untuk membungkam kekhawatiran, saya membaca lebih banyak tentang keluarga unschooler dengan anak yang terlambat membaca. 

Dalam survey yang dilakukan oleh Jo Isaac, Juli 2016, rentang waktu anak belajar membaca dari umur 8-11 tahun.

Penelitian yang dilakukan oleh Peter Gray, sehubungan dengan kemampuan membaca anak, bervariasi dari usia 4-14 tahun. Dengan lingkungan yang mendukung, pada akhirnya anak-anak akan tertarik dan bisa membaca.

Ohh… Damai lah hati ini. Ga usah khawatir ya, mak!

Tidak ada yang suka dipaksa (kecuali oleh keadaan)

Adek si enak, ga pernah dipaksa mama untuk baca. Kakak nih dulu, jadi korban mama. Eh… Sekarang malah minta sekolah lagi!! Kamu kira sekolah cuma main jungkat-jungkit dan ayunan, doang!

Tidak ada yang suka dipaksa, kecuali oleh keadaanClick To Tweet

Komentar diatas diucapkan oleh anak pertamaku. Saat mendengar adiknya meminta untuk dapat bersekolah. Agar bisa bermain dengan teman-teman nya.

Bencana adalah : Individu yang belum tuntas masa kanak-kanaknya, namun sudah memiliki anak.

Seperti yang sudah pernah saya akui. Saya menikah dengan mental/pikiran yang belum dewasa.

Saat mempunyai anak pertama pun, belum ada kemajuan dari kedewasaan mental saya. Akibatnya adalah jiwa yang labil dan mudah terpengaruh, dalam setiap pengambilan keputusan keluarga dan pengasuhan anak.

Memasuki usia 3,5 tahun, saya daftarkan Kezia di salah satu Playgroup, terbaik di Jakarta Utara.

Saat itu, saya pikir, semakin dini seorang anak disekolahkan, semakin tinggi tingkat keberhasilannya. Entah dari mana, ide itu saya dapat.

Playgroup tersebut, memberikan PR untuk anak balita saya. Mulai merasakan ada sesuatu yang salah, saya mencari jalan alternative untuk pendidikan anak.

Setahun kemudian saya mengenal HS. Setelah, kenal HS, saya tidak melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Satu tahun kami bermain dan belajar bersama.

Dengan pola pikir yang belum berubah, tertatih-tatih saya menjalankan proses HS.

Saya masih percaya bahwa pendidikan hanya bisa di dapatkan di sekolah.

Bahkan, saya memindahkan sekolah kerumah. Hasil yang buruk membuat saya berpikir bahwa saya, tidak sekompeten guru disekolah.

Itu lah kenapa, saya selalu memberi saran kepada ortu yang baru memulai HS.

Untuk merubah/memperbaiki cara pandang/pengertian terhadap pendidikan yang memerdekakan.

Caranya bagaimana? Lakukan riset kegagalan & keberhasilan anak homeschool, ikuti blog keluarga homeschool, banyak baca buku tentang homeschool.

Kezia Les Baca

Saat masuk Tahun ajaran baru, melihat teman-teman sepermainan Kezia (sekitar 5th) sudah mulai masuk SD.

Kezia sih santai aja, malah emak nya yang baper.
Ini yang anak-anak yang mana ya?

Terprovokasi oleh keadaan dan tidak percaya diri, Kezia saya daftarkan untuk masuk kelas 1 di sebuah sekolah dasar swasta.

Emak-emak yang punya anak SD, pasti pada tau. Peraturan tidak tertulis unuk anak yang mau masuk SD: yaitu harus sudah bisa baca tulis.

Sebelum masuk SD, Kezia yang waktu itu belum genap lima tahun, langsung saya drill untuk belajar baca.

Awalnya santai, namun rasa tidak mampu, merasa tertinggal, merasa diburu waktu, membuat saya memaksa dan mengendalikan proses belajar.

Hasilnya berantem dengan anak, sampai airmata bercucuran.

Dan… Saya pun menyerah.
Mama panggil guru untuk bantu kezia belajar baca.

6 bulan kemudian Kezia, sudah masuk di Kelas 1 SD. Dan sudah bisa baca.
Saat itu saya pikir, “Tuh… Kan bisa klo mau usaha”.

Yang saya belum sadari adalah efek jangka panjang yang negatif untuk Kezia.

Hilang nya minat baca

Akibat dari pemaksaan belajar membaca, yang saya lakukan pada kezia, adalah minat baca kezia hilang.

Yang tadinya dia suka minta dibacakan cerita, bahkan setelah bisa baca, dia lebih tidak suka pada buku.

Itu yang membuat saya insaf.

Tidak mau lagi, memaksakan kehendak saya pada anak-anak, hanya agar tidak dianggap aneh oleh lingkungan sekitar.

Dibully karena belum bisa baca

Hari ini, Karen pulang kerumah sambil menangis kesal.

Oleh teman-teman sepermainannya yang sudah sekolah.

Karen dibully karena tidak sekolah, belum bisa baca, tidak bisa penambahan.

Sebagai orang tua, yang bisa saya lakukan, ikut merasakan kesedihan bersama dia, dan mengembalikan kepercayaan dirinya.

Dengan menunjukan kelebihan yang dia punya.

Dalam keseharian kami, Karenhappukh yang lebih sosial, menangani urusan luar rumah.

Jadi, dia sudah mahir belanja.

Dia bisa menghitung uang kembalian. Memilih dan menghitung barang apa yang akan dibeli, agar uang yang dia bawa, cukup untuk membayar.

Tapi, jika diminta menulis atau mengerjakan soal, langsung kabur.

Baca buku untuk anak

 

Tips untuk menemani anak yang belum bisa baca agar menjadi mahir membaca :

1. Jangan pernah menyerah pada anakmu.

Dan jangan biarkan anakmu menyerah. Menurut DR. David Elkin, penulis ‘The Hurried Child’, Tidak ada hubungan antara anak yang dipaksa membaca di usia dini, dengan keberhasilan akademisnya.

Saat anak belum bisa membaca, Jangan menyerah, apalagi memaksa! Tidak ada hubungan antara anak yang dipaksa membaca di usia dini, dengan keberhasilan akademisnyaClick To Tweet

2. Tetap bacakan buku, dan menjawab pertanyaan nya jika ada huruf, kata, atau kalimat, yang ingin dia ketahui.

Membacakan cerita pada anak adalah aktifitas penting yang dapat membangun keterampilan dan pengetahuan, dalam membantu anak belajar membaca.

Salah satu aktifitas yang bisa membantu anak belajar baca adalah orang tua membacakan cerita untuk anak. Click To Tweet

Semenjak masih kecil, saya biasakan membacakan cerita untuk mereka.

Dengan harapan, saat kemampuan kognitif mereka sudah cukup, mereka juga suka baca.

3. Jangan khawatir, semua ada waktunya.

Banyak baca tulisan yang menguatkan, bukan yang menjatuhkan mental kita.

4. Sambil kita menunggu, tetap jaga keceriaan anak, dan biarkan anak aktif bertanya.

Karena rasa ingin tahu adalah alasan utama anak untuk belajar.

“The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing.” — Albert Einstein”.

The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing-Albert EinsteinClick To Tweet

 

5. Jangan permalukan anak yang belum bisa baca.

Jangan permalukan anak, apalagi menyalahkan.

Mereka membutuhkan dukungan kita, bukan kecaman.

6. Ada anak yang lebih tertarik untuk menulis sebelum membaca.

Anak akan belajar membaca, sambil mereka belajar menulis.

7. Jangan memaksa anak untuk belajar baca.

Sediakan saja lingkungan yang memantik keinginan anak untuk bisa membaca.

Gimana caranya? Orang tua membaca di depan anak, sediakan buku bergambar menarik ditempat yang bisa dijangkau anak, bacakan cerita sebelum tidur.

Ilustrasi

Saat seorang anak dilahirkan, dia tidak langsung bisa jalan kan?

Namun, tiap hari anak itu melihat orang disekitarnya berjalan.

Saat kondisi fisiknya siap, dia mulai ingin dan mencoba untuk berjalan.

Walaupun jatuh berulang kali, dia tidak menyerah.

Karena orang disekitarnya, selalu memberi dia semangat, untuk terus mencoba.

Sampai akhirnya anak tersebut mahir berjalan.

Saat anak belajar bicara, belajar naik sepeda, atau belajar masak, awalnya tidak bisa.

Begitu juga sekarang ini, saat adibelajar baca. Yang bisa kita lakukan adalah memberi contoh dan dukungan, selanjutnya percaya saja.

Dia akan mahir membaca pada waktunya.

Related Post

Kegiatan Anak Sebelum Tidur | FREE Cara Membuat &#... Banyaknya kegiatan anak sebelum tidur, seringkali menguras kesabaran kita, ya Mak. Kita sudah capek dan siap untuk istirahat. Tapiiii, balita kita ...
Perlukah ada Bapak dalam hidup ?! Tulisan ini dibuat oleh seorang anak yang masa kecilnya dilewati tanpa bapak dalam hidup nya. Kehilangan rasa aman yang seharusnya disediakan oleh ...
Baca : 9 Alasan Absurd !! Jangan Pilih Homeschooli... Apakah kamu sedang memikirkan untuk memulai Homeschooling? Jika iya, kamu berada di tempat yang tepat. Karena, bukan cuma keunggulan, homeschool...
Review Gitar Klasik Valencia untuk Anak 6 Tahun Saya sudah pernah menuliskan keuntungan memainkan alat musik untuk anak, dari pada sekedar mendengarkan musik. Setelah mengetahui hal ini, saya...
Mengunjungi Perpustakaan Nasional yang Baru Sejak dibuka untuk umum, di bulan September 2017. Baru, di awal Desember 2017, kami berkesempatan untuk mengunjungi Perpustakaan Nasional yang baru. ...

8 thoughts on “Anak usia sekolah, koq belum bisa baca?!

  1. Bener mbak, jangan dipaksa, biar aja dia berproses sesuai ritmenya. Yg penting fasilitas belajar & bermain disediakan. Sekilas penyesalan kami krn terburu-buru dg sekolah salah satu anak kami. Dia SD umur 5th, sdh gitu SMP masuk kelas akselerasi. Akhirnya rontok ketika UN, nilainya kurang memuaskan krn pd dasarnya dia nggak bisa dipush, baik oleh sekolah, les maupun kami, ortunya. Skrg sdh kelas 2 SMA, umurnya baru 15th & kami spt belajar mengenal anak kami dr awal lagi dg mensupport kegemarannya main musik & membiarkan dia belajar pelajaran sekolah sesuai dg ritmenya. Alhamdulillah pelan2 dia sdh mulai menikmati ritmenya.

  2. Skr aku tahu kenapa aku benci banget ama pelajaran matematika. Krn sejak smp, pelajaran matematika jd kyk neraka dibuat papa. Paksaan, makian kalo ga bisa, bahkan prnh dipukul. Sampe skr, itu bikin aku ga trtarik utk bljr matematika. Kalo cm nitung2an biasa ya okelah yaaaa. Tp matematika yg lbh dalam, ogah banget.

    Tp pas aku kecil, umur 2.5 thn mulai diajarin baca ama papa. Anehnya cara papa ngajarin baca, dengan ngajarin matematika jauh beda. Aku inget banget papa srg bawain buku bergambar yg bikin aku jd pgn belajar baca. Pas udh bisa baca, tiap ultah papa slalu ksh kado, ngajakin kita ke gramedia dan silahkan pilih buku sepuasnya sampe keranjangnya ga sanggub aku angkat. Cara papa ngjarin aku baca, bikin aku jd kutu buku sampe skr. Coba seandainya dulu dia ngajarin matematika sprti itu 🙁

    1. Benar sekali, setiap anak punya cara belajar yg unik.

      Klo pendekatan/cara ngajarnya salah. Ilmu sebagus apapun, ga akan sampe ke anak.

      Setelah bergaul dgn anak, saya jadi kenal cara belajar mereka.

      Anak pertama saya, belajar secara visual-auditory-solitary.
      Cara belajarnya, prefer sendirian dikamar, liat video sambil dengerin musik.
      Youtube itu salah satu resources kami. Juga khan academy, coursera, odin project.

      Anak kedua lebih ke kinestetik-auditory-social. Dia lebih mudah untuk ngerti kalo langsung praktek.
      Jadi, saya ngajarin matematika, sambil main kartu gaplek sama remi. Kalo pake buku, langsung nolak.
      Untuk belajar baca, saya ajak jalan, nyari rambu2 lalu lintas. Atau coretan2 di dinding.

      Seru banget mengobservasi anak sendiri.

  3. ini persis yang sedang saya alami mba, anak saya masih belum bisa ngitung dan baca sekarang saya sudah sadar biarkan waktu saja saya ga mau maksain gimana2 pokonya saya percaya anak saya akan bisa pada waktu yang tepat 🙂 makasi sharingnya mba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.