Apakah harus Bercerai atau Bertahan? 3 Masalah pernikahan yang bikin pusing.

Apakah pernikahanmu, sedang dihadapkan pada pilihan untuk bercerai atau bertahan. Memang tidak mudah.

Berawal dari beberapa minggu yang lalu. Saat teman lama menghubungi, untuk mengundang saya ke acara pernikahan.

Antara kaget dan tidak percaya, saat mendengar kabar dari dia.

Pernikahan kedua nya, membuat saya berpikir tentang pernikahan saya sendiri.

Ada masa dalam pernikahan kami, saat semua begitu gulita. Dan (seakan) jalan keluarnya adalah bercerai.

Amarah, kecewa, kesakitan baik fisik maupun mental, menghancurkan sisa kekuatan di jiwa.

Ingin lari, tapi tak bisa.

Haruskah memutuskan ikatan yang ada.

Saat teman saya membuat pilihan pertama. Saya yakin dia memiliki alasan yang kuat, di balik keputusannya. Dan saya menghargainya.

Saya tidak minat menghakimi keputusan siapapun.

Karena memang tidak ada pernikahan yang bebas konflik, apalagi pasangan yang sempurna. 

Tidak ada pernikahan yang bebas konflik, apalagi pasangan yang sempurna. Click To Tweet

Asalkan self pity, jangan dipelihara.

Apa tuh self pity?

Self pity adalah perasaan mengasihani diri sendiri.

Dalam konteks hubungan pernikahan. Merasa bahwa pernikahannya yang paling menyedihkan.

Bercerai atau bertahan

Haruskah bercerai atau bertahan

Haruskah bercerai atau bertahan ? Karena 3 hal ini,

1. Pasangan tidak seiman

Nasihat yang sering diberikan saat kita mencari teman hidup adalah cari yang pasangan yang selevel.

Termasuk didalamnya adalah seiman.

Setelah saya merenungkan hal ini.

Saat saya memutuskan untuk menikah dengan suami.

Saya dan suami adalah pasangan selevel.

Selevel dalam artian, cara berpikir yg sama, percaya pada nilai yang sama.

Yaitu, hidup hanya untuk bersenang-senang.

Tidak ada Tuhan didalamnya.

Nah, kalau sekarang nilai yang saya percayai berubah.

Apakah adil jika saya meninggalkannya?

Walaupun, banyak orang yang menyarankan kami untuk berpisah.

Namun saya percaya, sebagai suami-istri, kita tidak boleh meninggalkan saat pasangan terpuruk.

Ceritanya akan jadi lain, jika pasangan yang meninggalkan.

Mungkin, kamu akan (sementara) hancur, namun yakinlah Tuhan tidak akan pernah meninggalkan mu.

Dan jika Dia ada di pihakmu, pada siapa kamu harus takut?

Lagi pula, saya sudah belajar.

Jika pun ada pasangan yang seiman, belum tentu kita di level yang sama. 

2. Kekerasan dalam rumah tangga

Orang bisa bilang: tinggalkan pernikahan yang tidak sehat.

Apalagi jika kekerasan termasuk didalamnya.

I wish as simple as that.

Saya lupa berapa kali kdrt terjadi dalam rumah tangga kami.

Anak pertama saya yang ingat. Menurut dia, sepuluh kali lebih.

Saya sempat heran, apakah benar sebanyak itu.

Yang saya ingat, suami pernah memukul, saat saya pulang kerumah dalam keadaan mabuk.

Dia marah karena saya meninggalkan balita kami, dan memilih untuk hangout dengan teman-teman saya.

Lalu beberapa kali saat dia cemburu, karena saya chat dengan laki-laki lain.

Loh, koq kamu ga lapor ke polisi, nggi?

Ya, saya lapor.

Saat saya sudah sangat muak dicurigai, dengan hal-hal yang tidak saya lakukan.

Saya melaporkan kasus KDRT pada kepolisian Jakarta Utara.

Lalu kenapa kamu tidak bercerai saja?

Sempat terlintas, dan hilang setelah saya merenungkan kembali situasi nya.

Pasangan saya sangat pencemburu. Namun, tidak mudah baginya untuk mengungkapkan perasaan.

Akumulasi kecurigaan, perasaan yang dipendam, ditambah saya yang suka cari gara-gara. Menyebabkan ledakan yang mengerikan.

Kamu mungkin bilang, ‘Wah, aneh nih orang, bukannya pergi malah nyalahin dirinya sendiri’.

Benar, saya sering berpikir bahwa saya lah yang bertanggung jawab atas tingkah laku suami.

Mungkin ini akibat dari masa kecil saya, yang juga menerima kekerasan dari orang tua saya.

Penelitian menyebutkan  bahwa anak yang mengalami KDRT mempunyai kemungkinan, untuk memilih pasangan yang juga akan menganiaya dalam pernikahan.

I think it’s because our mindsets.

Kembali lagi pada alasan kenapa saya memilih bertahan.

Saya percaya tidak ada yang namanya, tidak bisa diperbaiki.

Bahkan saya yang rusak pun, bisa direstorasi dan diperbaiki.

Jadi, sebelum kita memperbaiki diri sendiri dan merubah cara berpikir kita. Hasilnya akan sama saja jika kita menikah untuk yang kedua atau ketiga kali.

Makanya banyak pernikahan kedua, ketiga, keempat, atau kelima juga gagal.

3. Orang ketiga dalam rumah tangga

Orang ketiga dalam rumah tangga, memang salah satu alasan yang paling masuk akal jika kita ingin bercerai.

Kami harus menghadapi kenyataan pahit, saat orang ketiga hadir dalam pernikahan kami.

Namun yang saya ingat, kekuatan Tuhan lah yang membuat saya bertahan.

Saya yakin kemurahan Tuhan juga lah yang membuat suami saya mau memaafkan kesalahan saya.

Memang ada perbedaan antara memaafkan dan melupakan.

Saya berjuang keras untuk menghilang kan ingatan di babak ini.

Sungguh sulit bagi saya untuk melupakan.

Sampai akhirnya saya sadar, memaafkan berarti melupakan.

Saat kita belum bisa melupakan artinya kita belum tuntas memaafkan.

Sejauh timur dari barat engkau membuang dosaku, tiada kau ingat lagi kesalahan ku.

Seperti itulah memaafkan.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, orang ketiga hadir karena individu yang menikah belum dewasa.

Jika ketidak dewasaan mengikuti pernikahan selanjutnya, sudah bisa terlihat hasil akhirnya.

Saran saya, dari pada kita mengharapkan pasangan untuk berubah. Kenapa tidak kita saja yang berubah untuk jadi lebih baik.

Lima tahun kemudian

Cinta bukan tentang perasaan. Cinta adalah pilihan, yang BISA kita buat setiap hari.

Cinta bukan tentang perasaan. Cinta adalah pilihan, yang BISA kita buat setiap hari.Click To Tweet

Dari 2 pilihan dalam pernikahan kami, untuk bercerai atau bertahan, kami pilih memperbaiki.

Ternyata keputusan untuk memperbaiki pernikahan kami, tidak salah.

Baru-baru ini, saya ada kesempatan untuk kencan (spending time, just the two of us) dengan anak pertama. Kami bicara banyak hal.

Salah satunya, dia menceritakaan alasannya untuk dibaptis.

Dia bilang, karena menerima mukjizat dari Tuhan.

“Apa kak?”, Tanya saya.
“Keluarga kita bersatu lagi”. Jawab nya.

“Kakak pernah ingin melupakan semua hal tentang kekristenan, saat mama pergi. Tapi kakak ingat, mama pernah ceritain tentang nenek yang ingin adik mama bisa jalan. Lalu nenek minta ke Yesus.

(Dalam photo, usia adik saya 6th, tidak kuat untuk berdiri sendiri, belum bisa jalan. Dua tahun kemudian, baru dia bisa berdiri dan jalan tanpa dibantu)

Kakak juga bilang ke Yesus.
‘Yesus, kalo kamu bener-bener hidup! Saya mau keluarga saya disatukan lagi!!’.

Saat mama dan papa baikan. Kakak tau, Tuhan jawab doa kakak”.

For the records, dari saat ucapan itu sampai kami balikan ada jeda dua tahun. Dari restorasi pernikahan sampai Kezia dibaptis, melewati dua tahun.

Mama tidak pernah meminta dia untuk dibaptis. Papa pun tidak setuju dengan keputusan nya.

Namun, kami sebagai orang tua, belajar untuk menghargai keputusan anak. Walaupun sering bertentangan dengan keinginan kami.

Kesimpulan

Anak kehilangan cinta

Bukan orang lain yang bisa menjawab pertanyaan ini.  Apakah harus bercerai atau bertahan dalam sebuah pernikahan yang penuh gejolak?

Saran dari saya, untuk kamu yang saat ini sedang galau. Berada diantara dua pilhan, untuk bercerai atau bertahan.

Bawa permasalahanmu pada Tuhan.

Lembutkan hatimu, dan dengarkan saat Dia menjawab permohonan mu.

Seringkali, saat masalah datang, kita tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi dalam kehidupan kita.

Namun percayalah, sang pemberi hidup sudah tau, awal sampai akhir perjalanan setiap kehidupan manusia.

Dan Dia selalu memberikan yang terbaik.

Gunakan setiap permasalahanmu sebagai Batu pijakan untuk naik ke level yang lebih tinggi.

Bagaimana menurut mu?

Saat pernikahan bermasalah, apakah kamu memilih untuk bercerai atau bertahan?

Silahkan tulis di komentar.

Jangan menghakimi kisah cinta yang gagal, sebagai suatu pengalaman kegagalan.

Jadikan dia sebagai bagian dari proses pertumbuhan.

Sesuatu tidak harus berakhir baik, untuk bisa disebut pengalaman paling berharga seumur hidup.

Jangan menghakimi kisah cinta yang gagal, sebagai suatu pengalaman kegagalan. Jadikan dia sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Sesuatu tidak harus berakhir baik, untuk bisa disebut pengalaman paling berharga seumur hidup (Ethel Person) Click To Tweet

Related Post

Blueprint Hubungan Suami Istri Hubungan suami istri memang indah saat pernikahan bahagia, it's like heaven on earth. Namun saat pernikahan dalam fase kehancuran, it's like hell on e...
Orang ketiga dalam pernikahan Orang ketiga dalam pernikahan, seringkali di jadikan alasan kehancuran sebuah hubungan. Walaupun sebenarnya, jika terapkan dengan benar,  malah da...
Saran Praktis: Pasangan dapat Dimenangkan Tanpa Pe... Mungkin kamu pernah dengar bahwa 'Iman tanpa perbuatan adalah mati'. Nah, dimenangkan tanpa perkataan adalah hasil dari perbuatan iman tunduk pada sua...
10 Ayat Alkitab untuk Pernikahan yang lebih baik Sebagai seorang pengikut Kristus, Alkitab adalah buku pegangan untuk semua segi kehidupan saya. Termasuk didalamnya kehidupan pernikahan. Saya akan sh...
Saat pernikahan bermasalah, ini yang saya lakukan. Pagi ini masih terpengaruh pada amarah tadi malam yang menggebu, dan langsung ambil keputusan untuk mengibarkan bendera putih, sebagai tanda ketidakma...

18 thoughts on “Apakah harus Bercerai atau Bertahan? 3 Masalah pernikahan yang bikin pusing.

  1. Aku pernah berada di situ mba. Tp setelah dipikir berkali2 dan dengan matang, akhirnya aku lebih memilih cerai. Adakalanya cerai memang yg terbaik. Aku beruntung saat iti memang g ada anak, tp seandainya adapun, pilihanku ga bakal berubah. Drdulu aku slalu bilang, kesalahan apapun bisa aku maafkan, tp ga utk selingkuh. Sekali aja aku ngerasain itu, susah buatku bisa percaya lg. Pernikahan tanpa percaya, ga ada gunanya dilanjutin 🙁

    1. Setuju mba, setiap orang berjalan dengan sepatu yang berbeda (halah… Ngomong apa sih gw).

      Kalo sepatunya sama, kita bisa saling tuker2an (tambah ngaco) 😀

      “I won’t judging people life, I’m not walking in their shoes”.

      Yang gampang nya aja dah, setiap permasalahan membuat kita semakin kuat dan dewasa.

      So… Cheer up and chin up.
      Our life is too valuable to be filled with grief.

  2. Bgaimna dgn kasus sya, sya msih sgt dilema, sya ditinggalkan suami sya sdh 5 bln, tnpa ada perkataan apapun, yg akhirnya sy tau dy pergi tmpt abgnya… Keinginannya untuk berpisah sangat mngaketkanku dgn alasan yg tdk msuk akal, slh stu krena blm pnya anak, pdahal penikhan kmi msi 2,6thn… Smua dri pihak kluarganya tdk ada itikad baik untuk mempertemukan sy dgn suami saya… Sya hancur… Sya sgt bgung apa yg hrus sy lkukan…

    1. Coba ajak suami ngobrol bareng berdua. Atur kunjungan ke dokter berdua, untuk cek kesuburan. Agar bisa ditanggulangi bersama.

      Biasanya suami berubah krn dapat masukan dari anggota keluarga yang lain.

      Tetap berserah pada sang pemberi hidup, hanya DIA yang bisa merubah hati suami kita.

      Suami istri dapat saling menguatkan dalam proses menunggu. Sambil menikmati waktu pacaran.

      Teman saya, setelah menikah 10th, saat ini sedang menantikan kelahiran anak pertamanya di tahun ini.

  3. Seharusnya sebelum saya menulis cerita “Love Different Religion” harusnya saya membaca tulisan” kakak dulu…. Meskipun tulisan saya hanya fiktif belaka dan saya cuma bisa mengkhayal akan hal tersebut tapi setelah baca tulisan ini saya semakin tertarik untuk kembali menulis.. Saya mau coba tulis tentang “Self Pity” hhee…

    Saya juga sudah menikah kak belum cukup setahun, kami seiman namun ada perbedaan pada cara berpikir, terimakasih ilmu dari tulisannya, jangan lelah berkunjung di blog saya kak, saya senang atas segala masukan dan komentar” dari yang lebih berpengalaman..

    1. Self pity ini saya banget (dulu… di 3thn pertama pernikahan), sampe harus berkali-kali diingatkan sama orang tua, untuk membuangnya.
      Setelah saya menyadari bahwa diri saya berharga, diterima dan layak dicintai, pikiran saya menjadi normal dan pernikahan kami mulai bertumbuh dan berkembang.

      Sampe sekarang, cara berpikir saya dan suami berbeda banget. Tapi dari perbedaan itu, kami jadi belajar saling menghargai dan bisa saling mengisi.
      Sering sekali kami sepakat untuk tidak sepakat dalam banyak hal 😀
      (it’s a blessing to have spouse that totally different with you, he/she makes you not bored)

  4. Mbak, bagaimana jika didalam pernikahan saya sudah tidak merasakan cinta untuk suami saya lagi. dan ada laki-laki lain yang membuat saya bahagia dan bisa menjadi diri saya sendiri tanpa harus pura-pura bahagia.
    Saat ini saya bingung sekali, saya ingin cerai tapi tidak berani menghadapi nya. Tapi jika saya bertahan, saya akan menyakiti suami saya terus dengan kebohongan dan saya masih suka bertemu dengan laki-laki itu.
    Setiap malam hampir saya tidak bisa tidur nyenyak dan selalu ada perdebatan antara saya dan suami saya.
    Saya benar-benar capek, dan ingin semua cepat selesai. Tapi saya takut untuk menghadapi perceraian.
    Apakah saya salah jika memilih kebahagiaan untuk hidup saya?

    Terima kasih yaaa.

    1. Tidak ada yang salah dengan membuat pilihan untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia.

      Yang jadi masalah adalah, saat kita tertipu untuk mempercayakan sumber kebahagiaan kita pada orang lain (pasangan, orang tua, anak, pekerjaan, jalan-jalan, atau pria/wanita idaman lain).

      Dan ingat, cinta itu bukan cuma perasaan.
      Cinta adalah kata kerja, ada tindakan yg bisa menumbuhkan (atau mematikan) perasaan cinta.

      Dalam pernikahan, Cinta adalah pilihan, yang BISA kita buat setiap hari.

      Melihat kekurangan pasangan kita, dan membandingkan dengan orang lain, jelas bukan perbuatan yang bijaksana.

      Saran saya :
      1. Bawa permasalahan ini pada Tuhan, ceritakan ttg kekosongan dlm jiwamu dan keinginan untuk bercerai. Buka diri untuk jawaban, yg mungkin tidak sesuai dgn keinginanmu.

      2. Bicarakan terus terang dengan pasangan. Bahwa kamu merasa bosan dan tidak bahagia dengan pernikahan kalian. Lalu temukan solusi. Apakah perlu bulan madu kedua, atau lebih banyak melakukan aktifitas bersama. Cari jawaban, apakah masih ada cinta diantara kalian. Apakah kalian masih ingin mengusahakan perbaikan dalam pernikahan atau menyudahi saja.

      3. Jangan pernah curhat tentang masalah dalam pernikahan dengan teman beda jenis kelamin.

  5. Saya adalah trmasuk dlm korban kdrt. Suami sy sering marah meletup letup hny krna mslh sepele yg akhirnya merusak barang2 dan meakukan kekerasan fisik pd sy.
    Dan saat sy menangis pun dia tdk prnah peduli bahkan saat sy kesakitan oleh kekerasan fisik nya dia jg tdk peduli.
    Dia menganggap kalau smua itu trjadi karna saya. Smua kekerasan trjdi krna slh saya.
    Saya bingung,saya sungguh ingin bercerai.. Tolong saranya..

    1. Hai Kak Melinda,

      Terimakasih sudah berbagi. Saya mengerti betapa sulitnya untuk menceritakan masalah dalam pernikahan kita pada orang lain.

      Terkait dengan kekerasan fisik yang terjadi, saran saya, kamu dokumentasikan bukti-bukti kekerasan. Lalu lakukan visum di rumah sakit/klinik/puskesmas.

      Lalu dengan bukti-bukti tersebut, kamu bisa datangi kantor polisi terdekat, untuk mengajukan tuntutan.

      Namun, dari pengalaman saya, instansi kesehatan tidak mau melakukan visum tanpa pengantar dari kepolisian.

      Menyalahkan orang lain untuk membenarkan apa yang dia lakukan, merupakan tanda minimnya kedewasaan. Saya hanya bisa bilang, kamu tidak layak untuk diperlakukan seperti itu (apapun alasannya). Kamu layak untuk dicintai, dihargai, dijaga.

      Sejalanan dengan keinginanmu untuk bercerai. Bawalah dalam Doa, lembutkan hatimu dan dengarkan jawaban dari Tuhan.

      Semua yang terjadi dalam hidupmu, selalu untuk mengeluarkan yang terbaik dari dalam dirimu.

      God loves you, so much.

  6. Hi,mba,saat ini saya bingung harus bercerai atau bertahan,suami sering sekali mengucapkan kata cerai,namun menurut keluarganya,suami saya sedang tdk sadar mengucapkannya krn suami dlm pengobatan psikiater,dulunya pernah depresi,sering berprasangka buruk ke org lain, cemburuan pada saya tanpa alasan menuduh saya punya org lain.Bbrp kali juga pernah memukul saya krn, kunci motor hilang dan mengatakab saya ambil kunci nya dan memberikan pada laki2 lain.Dia tidak kerja,dulu masih mau mengurusi usahanya tp skrg sangat malas dan mengharapkab saya yg mencari uang tp bagamana sy bisa bekerja kalo kerumah mengantar anak sekolah pun dicurigai?bagaimana bu? tiap saat dan malam saya selalu berdoa sesuai dg agama saya agat selalu diberi yg terbaik,tp sptnya blum ada perubahan.apa yg hatus saya lakuka. bu?

    1. Hi Trixy,

      Terimakasih karena sudah berani menceritakan masalah kamu disini.

      Kamu adalah wanita yang kuat, karena saya tahu tidak mudah untuk hidup dengan pasangan yang depresi.

      Depresi adalah penyakit yang serius dan harus segera ditangani. Karena bagian terburuk dari depresi bisa membuat orang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

      Bagus sekali jika saat ini suami sedang dalam pengawasan psikiater. Berarti suami masih ada keinginan untuk sembuh.

      Kamu pun bisa ikut dalam konseling, dan mencari tahu lebih banyak tentang depresi dan cara penanganannya.

      Pikiran negatif, was-was, gelisah, amarah yang tidak dapat dikontrol, termasuk malas menjalani kehidupan sehari-hari adalah efek dari penyakit depresi yang dideritanya.

      Untuk mengatasi kecurigaan/kecemburuannya, saat suami dalam kondisi normal, kamu bisa ajak suami bicara dan meyakinkannya bahwa tidak ada orang lain selain dia.

      Tunjukan juga dengan tingkah laku, contoh: jangan rahasiakan percakapan dengan teman, berbagi pakai di sosial media, minta ijin sebelum keluar rumah dan segera kembali setelah selesai, di tempat kerja hubungi suami untuk mengatakan ‘sayang’, sering-sering memeluk & mencium suami, 1 bulan sekali luangan waktu satu atau dua hari untuk menghabiskan waktu romantis berdua dengan suami, tanpa anak-anak.

      Mengenai penganiyaan fisik, saran saya kamu bisa laporkan ke kantor polisi.
      Kamu juga harus menjaga hati dan pikirannmu saat menerima penganiayaan melalui kata-kata.

      Saran saya, kamu tahan dulu keinginan untuk meninggalkannnya. Karena saat ini adalah suami sangat membutuhkan pertolongan dari orang-orang yang disekitarnya.

  7. Bertahan!!!

    Setiap keluarga pasti memiliki permasalahan dalam menjalaninya, namun menurut pengalaman Saya pribadi, Saya mencontoh orang tua Saya, dimana orang tua Saya bertahan walaupun dalam perjalanan rumah tangga mereka kerap dilanda perselisihan dan pertengkaran, namun mereka tetap bertahan, mengapa mereka bertahan itu karena mereka takut akan TUHAN, prinsip tersebut pada jaman sekarang sudah mulai bergeser, hal ini menurut Saya dikarenakan ada kemunduran moral dan agama di setiap keluarga, intinya Saya berdoa agar TUHAN melindungi dan memberkati kelanggengan rumah tangga sampai maut memisahkan, pernikahan bukan persoalan cocok atau tidak cocok, ketika kita telah memutuskan untuk menikah maka itu adalah abadi, kebahagiaan timbul ketika kita merasa bersyukur atas segala hal.

  8. Siang ka.. Saat ini saya ingin bercerai..selama masa pernikahan 12thn saya merasa suami saya tidak berperan sebagai suami..dia sudah merasa bertanggung jawab dengan memberi nafkah.. yang saya inginkan bkn sekedar nafkah tapi sosok figur dan seorang suami yang bisa membahagaiakan saya dlm menjalani rumah tangga..parahnya lagi ketika keadaan ekonomi di bawah layak saya mulai mengenal laki2 lain dan kebutuhan rmh tangga pun alhamdullilah tercukupi bahkan lebih setiap laki2 yg memberiku materi aku selalu jujur sm suami aku d kasih berapa sm siapa.. Sampai pd puncaknya ak menemukan sosok laki2 dia memberiku lebih dr yg pernah aku temui..hingga sampai pd akhirnya sikapku berubah terhadap suami..aku kecewa karena dia bersikap acuh malah berkesan dia ikut menikmatinya.. Sampai pd akhirx dia memintaku utk memutuskan hubungan dgn laki2 ini..aku meng iyakan dgn syarat dia harus memenuhi segala kebutuhan..hingga pada akhirnya kami ribut dan suamiku memukuliku agar aku memutuskan hubungan..saya kecewa dgn sikap dia..selama bertahun2 dia mendiamkan sy berperilaku seperti itu..ak kecewa berat dan menurutku sikap dia bukan sikap sabar atau baik..atau soleh yg mendiamkan hal buruk yg jelas sy kecewa..dan sy ingin mengakhiri rumah tangga sy yang aneh!!!

    1. Hai Kak,
      Terimakasih sudah berbagi.

      Disini saya tidak ingin menghakimi kakak, saya hanya ingin meluruskan satu dua hal.

      1. Bukan kewajiban suami kita untuk memberikan kebahagiaan pada kita. Kebahagiaan kita adalah pilihan yang harus kita cari dan temukan sendiri di setiap waktu. Jika kakak terus mencari kebahagiaan dari luar, kakak akan selalu kecewa.

      Kebahagiaan juga tidak melulu tentang uang. Pria yang sekarang ini kakak anggap bisa membahagiakan kakak, suatu hari akan mengecewakan kakak saat dia tidak bisa memenuhi apa yang kakak inginkan dari dia.
      Lalu setelah itu terjadi. Apa kakak akan meninggalkan dia dan mencari pria lain yang bisa membahagiakan kakak?

      2. Jika kakak sudah mengerti yang kakak lakukan itu salah (berhubungan & meminta pertanggung jawaban pada laki2 lain). Kenapa masih kakak lakukan? Dan kakak malah menyalahkan suami karena tidak menghentikannya?

      3. Memang betul suami salah, karena telah menganiaya kakak. Untuk itu, kakak bisa membawa perkara ini ke pihak yang berwenang.

      Namun, saya juga tidak akan mengecilkan kesalahan kakak, karena telah berselingkuh dengan pria lain.

      Jika jendela rumah kita rusak, apakah kita akan langsung menjual rumah itu dan membeli rumah yang baru?
      Atau kita akan mencoba memperbaiki jendela tersebut agar dapat berfungsi sebagaimana layaknya?

      Memang betul, saat ini pernikahan kakak terlihat berantakan. Namun selalu ada jalan keluar, jika kedua belah pihak sama-sama menyadari kesalahan dan berusaha memperbaiki.

  9. Tulisannya Bener2 menginspirasi mba… walaupun Saya muslim.. ada kalanya disatu Titik Ketika pertengkaran pasutri terjadi, merasa Tuhan Tidak pernah mendengar doa Tiap hambanya dan Tidak adil dan selalu merasa menjadi pihak disalhkan terus menerus. Tidak jarang juga pikiran Utk menggugat cerai pun terlintas.. tp Setelah baca tulisan mba.. Makasih bgt y Sedikit mencerahkan. Emange setiap permasalahan perlu dipikirkan dgn hati dingin.. Meskipun tekanan dri Suami Atau org lain selalu ad.. Dan pkiran selalu menyalahkan pernikahan kita gagal perlu dibuanv jauh2. Apalagi Sdh pny anak

  10. saya sakit hati mbak , dengan suami yg pada mulanya sangat sayang tapi setelah 5tahun pernikahan malah makin berubah , selalu menyalahkan ,tidak mau berpikir u masa depan malah selalu mengungkit masa lalu , dia pun seperti tidak menghargai semua yg sudah saya lakukan untuk keluarga , dimatanya saya selalu salah , begitu juga dengan mertua saya , yg selalu merasa menantu itu ada sebagai pembantu saja , dan selalu mencari cari kesalahan , munafik , dan selalu mengarang cerita jelek soal keluarga ke orang lain, satu satunya alasan saya masih tinggal disini karena anak perempuanku satu satunya ,tapi makin hari makin berat rasanya , saya sudah ilfil sekali dengan keadaan rumah tangga kami ,suami yg seperti tidak punya masa depan cerah dan mertua yg mau dilayani dan diperhatikan bak seorang ratu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.