Homeschooling-dan-orang-tua-bekerja

7 Tips Emak Kantoran: Homeschooling dan Orang Tua Bekerja

Homeschooling dan orang tua bekerja. Banyak keragu-raguan yang muncul dan pertanyaan di topik ini. Jika saat ini ada ibu/bapak yang sedang memikirkan untuk memilih jalur pendidikan rumah.

Namun saat ini kedua orang tua harus bekerja,  dan masih bertanya-tanya apakah bisa? Jawabannya bisa.

Saya dan suami sama-sama pekerja kantoran. Saya bekerja 40 jam seminggu, suami lebih parah, jika sedang lembur. Bahkan sabtu-minggu harus masuk kerja. Belum lagi perjalaan dari rumah ke kantor memakan waktu, 5-6  jam pulang pergi.

Memang betul ideal nya, satu orang tua bisa dirumah untuk menemani anak-anak. Tapi, jika kenyataannya keluarga kita tidak ideal. Toh kita masih bisa menjalaninya dengan penyesuaian disana-sini.

Banyak saran yang diberikan oleh orang tua bekerja yang meng-homeschool-kan anak-anak nya. Kembali lagi, kita harus melihat keadaan keluarga kita sendiri.

Homeschooling dan Orang Tua Bekerja

Berikut saran dan keseharian kami, keluarga pekerja yang nekat memilih jalur penididkan rumah.

1. Jalani Saja

Keluarga-Homeschooling

Ada orang-orang yang sangat detail dan ‘well planed’ dalam menjalani kehidupannya. Namun saya bukan orang yang seperti itu. Saya orang yang sangat tidak ‘ter-organized’. Sering kali saya heran, koq bisa ya, orang-orang pada bikin rencana/to do list dan berhasil ‘stick to their list’.

I hardly do that. Kehidupan homeschooling kami sangat mengalir. Seringnya, mama akan siapkan apa yang akan anak-anak pelajari.

Yang seru adalah, saat pelajaran yang mama siapkan tidak sesuai dengan apa yang ingin anak-anak pelajari. Jadi, mama langsung cari/siapkan on the spot. Jika resource kurang, mama dan anak-anak akan tulis whislist hal-hal yang ingin dipelajari.

Cara ini sesuai dengan template INFP saya. Merasa tertekan saat harus menetapkan rencana, namun sangat kreatif saat harus membuat modifikasi dari rencana yang sudah tersusun rapih.

Berdasarkan pengalaman kami, praktek homeschooling jauh lebih mudah dari pada memikirkan terus dan ketakutan sebelum proses homeschooling dimulai.

2. Delegasikan Tugas Pada Anak-anak

Saya tidak bisa mengerti, jika ada orang tua yang mengeluh kenapa anak tidak mandiri. Saat sesungguhnya, orang tua tidak pernah memberikan kesempatan anak untuk mandiri.

Contoh : Anakku sudah besar tapi tidak pernah mau, kalo disuruh beberes rumah. Udah pernah diajarin? Udah. Dari umur berapa? Ya baru-baru ini sih.

Bu, Pak, melatih kebiasaan itu perlu waktu.  Sebuah pelajaran/kegiatan/kebiasaan baru, berhubungan dengan pembentukan neuron baru di otak. Semakin sering sebuah kegiatan/kebiasaan dilakukan. Akan membuat sinapsis antar neuron terhubung dengan kuat. Semakin kuat sinapsis anatar neuron, suatu kegiatan/kebiasaan akan mudah dilakukan.

Semenjak anak-anak kami masih balita. Sudah kami biasakan terlibat melakukan pekerjaan rumah. Berikut panduan pekerjaan rumah untuk anak-anak berdasarkan umur :

Pekerjaan-rumah-untuk-anak

 

3. Ajak anak kekantor

Dalam kasus kami, sangat memungkinkan bagi saya untuk mengajak anak-anak ke kantor.  Jika tidak ada meeting di lingkungan kantor atau tidak harus keluar untuk menemui Client. Saya akan ajak anak-anak ke kantor.

Kantor mama, adalah salah satu tempat sosialisasi untuk anak-anak. Di Kantor mama, Kezia, 12th, belajar bahwa orang dewasa, perlu 3-4 kali penjelasan sampai benar-benar mengerti suatu topik/pekerjaan baru.

Padahal di sekolah nya, Kezia sempat malas bertanya. Karena pak guru memberikan batasan 1-2 kali untuk bertanya. Lebih dari itu, anak murid akan di katai bodoh.

Karenhappukh, 6th, bisa bergaul  dengan staff office boy kami, atau pun berbicara dengan pemilik perusahaan. Pernah mama ijin kan Karen untuk keliling kantor, dan pulang ke meja mama, dengan tubuh yang wangi dan muka penuh make up. Menurut Karen, “Asik deh ma, Aku di-dandanin sama tante itu, dia punya banyak make-up. Ga kaya mama, make-up nya udah abis semua”.

4. Atur jadwal belajar senyaman mungkin

adwal-Belajar-homeschooling

Inilah, keuntungan HS. Jadwal yang sangat Fleksibel. Karena muridnya hanya 2 anak. Maka jadwal belajar mengikuti  2 anak ini.

Anak pertama kami, Kezia 12 Th, sudah sangat mandiri. Jadi dia hanya menmbutuhkan papa/mama sebagai kamus. Anak kedua kami, Karenhappukh 6th, Biasa belajar di jam 5 pagi atau jam 10 malam. Siangnya, kakak akan menemani adik untuk belajar. Walaupun prakteknya, kebanyakan waktu adik dipake untuk main.

Cara belajar kezia, lebih banyak dengan menonton Youtube, lalu langsung praktek. Dia agak sulit untuk menerima pelajaran dengan membaca buku teks.

Karen belajar dengan cara dibacakan buku cerita dan di contohkan teladan yang baik. Hingga saat ini, Karen belum menunjukan minat untuk membaca sendiri. I’m ok about that.

Pendidikan adalah proses seumur hidup. Bukan hanya sekedar mendapat peringkat pertama dikelas

5. Bagi Tugas dengan Pasangan

Memang tidak semua pasangan mengerti kerinduan kita dan mau bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak di rumah. Pasangan saya, perlu waktu bertahun-tahun, sampe akhirnya mau diajak bagi tugas.

Apa saja yang bisa di bagi Tugas dengan pasangan? Hampir semuanya bisa. Ini  beberapa contohnya :

  • Menemani anak-anak belajar, saat mama harus melakukan pekerjaan rumah (atau sebaliknya)
  • Mengantarkan anak-anak ke tempat les
  • Menemani anak-anak dirumah, saat mama harus bekerja, dan tidak bisa bawa anak.
  • Bermain dengan anak-anak

6. Jangan membandingkan

Ini  nih, yang paling bikin stress. Seperti yang saya bilang diatas, keadaan ideal keluarga HS, jika salah satu ortu ada yang tinggal di rumah. Nah, karena kita tidak seperti kebanyakan keluarga HS. Makanya jangan membandingkan dengan praktisi HS yang kebanyakan.

Saya sendiri sering stress gara-gara ini. Saat liat keluarga HS yang berkegiatan di hari kerja, timbul pikiran

Ih.. Enak ya dia, bisa jalan-jalan di weekday
Ih.. seru ya bisa sering kumpul sama keluarga  HS lainnya
sementara saya harus kerja di hari itu.

Setiap keluarga adalah unik. Jangan mencoba untuk menjadi sama dengan keluarga yang lain.

7. Kurikulum

Kurikulum-Homeschooling

Pilih kurikulum dengan mata pelajaran yang sesuai dengan minat anak. Sering kali kita orang tua, memaksakan anak harus belajar ini/itu, padahal belum tentu anak nya suka.

Untuk belajar bahasa inggris, kami berlangganan Reading Eggs dan Reading Eggspress : Idr 350rb/anak/tahun. Pernah menggunakan IXL untuk belajar matematika. Tapi karena anak-anak tidak suka, kami tidak teruskan. Untuk mata pelajaran lain, jika memungkinkan, kami cari sumber gratisan dari Khan Academy, easypeasy, coursera, duo linggo, dll.

Memainkan instrumen musik juga termasuk dalam kurikulum kami. Kezia latihan Biola dan Karen latihan Les gitar Klasik. Berenang salah satu keterampilan hidup, jadi pasti masuk dalam mata pelajaran kami.

Pelajaran kami lebih ke project based.

Contoh : Kezia tertarik dengan anime. Mama akan kasih saran sumber belajar. Keputusan akhir belajar dimana tetap ada ditangan Kezia. Seringnya Kezia akan buka Youtube untuk cari sumber belajar.

Dalam pembuatan Anime, Kezia belajar, anatomi tubuh, sektsa, emosi  manusia, software olah gambar, bahasa inggris, bahasa jepang.

Project based ini juga sesuai dengan template mama dan kezia yang sama-sama INFP.

Untuk Karen sendiri, belum ada pelajaran terstruktur. Saya lebih mementingkan membangun kebiasaan baik, seperti hormat sama orang tua, pengenalan pada Tuhan, bicara jujur, mengerjakan pekerjaan rumah, craft.

Kesimpulan

Tidak bisa dipungkiri, bekerja, homeschooling, sambil tetap mesra dengan pasangan dan menjaga rumah tetap rapih, bukan hal yang mudah. Namun, kita juga tidak harus menjadi super mama.

Buka hari dengan memohon kekuatan dan kebijaksanaan dari yang Esa. Jalani hari dengan penuh cinta dan suka cita.

Saat kamu pikir, kamu bisa lakukan ini. Itu saja sudah cukup untuk mengawali perjalanan penuh petualangan dalam keluarga.

Related Post

Kamu bisa belajar apa saja, di mana saja Beberapa hari yang lalu, aku dan anak pertama ku bercakap-cakap, mengenai kemajuannya dalam belajar biola. Dari yang tidak bisa membaca not balok, ...
Escorindo Farewell Party dari Team Operasional Kemarin adalah hari terakhir saya bekerja di PT. Escorindo Jasa Prima, sebagai Manager Operasional. Sepulang kerja, atasan saya sudah menyiapkan Escor...
Baca : 9 Alasan Absurd !! Jangan Pilih Homeschooli... Apakah kamu sedang memikirkan untuk memulai Homeschooling? Jika iya, kamu berada di tempat yang tepat. Karena, bukan cuma keunggulan, homeschool...
10 Alasan memilih homeschool Mereka bilang temukan alasan memilih homeschool. Cari lah jawaban dari Kenapa nya. Pertanyaan ini menghantui saya selama bertahun-tahun, karena saya t...
Untuk Mama Baru Rasa tidak aman menyatu dengan ketakutan yang muncul saat kamu melihat kembali kepada kehidupan mu sendiri. Kamu menginginkan yang terbaik untuk bayi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.